Temu Media Desa Se-Jawa Tengah Dalam Lokakarya Refleksi Dan Penguatan Media Untuk Akuntabilitas Sosial

Dalam rangka memperkuat kemitraan strategis warga aktif dan pemerintahan desa untuk mengembangkan inovasi dalam penganggaran desa partisipatif , maka pada tanggal 8-10 Februari 2018 konsorsium KOMPAK (IRE Yogyakarta, Lakpesdam PBNU, KPI, PSPK UGM, CCES dan Mitra Wacana ) Sebagai pelaksana program mengadakan lokakarya refleksi dan penguatan media desa untuk akuntabilitas sosial bagi seluruh desa pilot (Desa dampingan) di seluruh Indonesia yang diadakan per reigonal Provinsi. Untuk regional Jawa Tengah, penyelenggaraan Lokakarya di adakan di hotel Puri Artha Yogyakarta selama 3 hari terhitung dari tanggal 8- 10 Februari 2018.

Lokakarya ini di hadiri oleh perwakilan seluruh desa pilot (desa dampingan) yang ada di Jawa Tengah yaitu Desa kerakitan dan Tawangrejo (Klaten), Cepiring dan Protomulyo (Kendal), Kalijaya dan Nampudadi (Kebumen) serta Desa Jalatunda dan Kebakalan (Banjarnegara). Setiap desa di wakili oleh dua peserta yaitu satu orang CO dan satu orang dari tim media. Sebagai penyelenggara/pemandu lokakarya adalah dari tim CCES, Lakpesdam PBNU dan KPI.

Tujuan lokakarya ini sendiri yaitu untuk melakukan refleksi dan pembelajaran bersama atas kerja media di masing-masing desa, mempertegas kemandirian dan keberlanjutan media desa serta menyiapkan tim media desa agar mampu membangun kerja kolaboratif dengan pemerintah desa dalam mendorong transparanso dan akuntabilitas pembangunan di desa.

Hari pertama lokakarya masing masing desa dipersilahkan untuk melakukan presentasi dan klarifikasi hasil kerja media berupa isu desa yang diangkat, serta hasil kerja dan media/platforn yang digunakan untuk menyebarkan produk hasil kerja media.

Hari kedua lokakarya di isi dengan refleksi hasil kerja media dengan berbagi pengalaman antar desa terkait capaian media masing-masing desa, tantangan dalam mencapai hasil kerja media dan pembelajaran bersama yang dapat dipetik dari cerita setiap desa.

Dari 8 desa yang berbagi cerita, ada dua cerita yang paling berkesan menurut saya yaitu Desa Protomulyo( Kendal) dan desa kerakitan(Klaten). Cerita dua desa ini sangat berkesan menurut saya, berkesan karena dua desa ini memiliki permasalahan yang cukup menantang.

Desa Protomulyo memiliki masalah/tantangan yang besar dari pemerintah desanya sendiri. Menurut anggota Tim media Proto. Keberadaan mereka kurang mendapat respon positif bahkan terlihat adanya kecenderungan penolakan dari pemerintah Desa. Sikap pemerintah desa yang seperti ini tentunya menghambat tim media proto untuk mewujudan desa yang Mandiri, transparan dan akuntabel.

Cerita berkesan kedua datang dari media desa Kerakitan(Klaten), Media desa ini memiliki perbandingan terbalik antara luas wilayah desa dengan jumlah anggota tim media. Desa Kerakitan secara administratif memiliki lebih dari 80 RT, sebuah desa terluas yg baru pernah saya dengar. Sedang tim media kerakitan hanya menyisakan satu anggota tim media yaitu maz Yanto. Tentu ini menjadi sebuah pemandangan yang sangat paradoks menurut saya, Mas Yanto yang seorang diri, di bantu oleh Mbak Wiena dan temannya selaku CO memiliki tanggung jawab yang besar untuk memajukan desanya. Maz Yanto tak ubah seperti seorang pionir, sosok agen of change bagi desanya. Dengan kesendiriaannya sebagai tim media, ia tetap tampak bersemangat, terlihat jelas betapa pedulinya, betapa ia ingin memajuan dan merubah wajah desanya ke arah yang lebih baik. Semoga Kisah perjuangan tim media Protomulyo dan semangat mas Yanto yang luar biasa bisa menjadi pelajaran, contoh dan inspirasi bagi kita semua.

Secara umum, tim media desa memiliki persoalan, masalah dan tantangan yang sama yaitu tentang masalah pengorganisasian dan managerial intern tim media itu sendiri yaitu kurangnya anggota tim, susahnya menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan pihak luar, Menjaga exsistensi dan konsistensi media pasca exit program nantinya.

Di hari kedua pada sesi berikutnya di bahas juga tentang pengelolaan media(management organisasi media) strategi menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah desa serta upaya menjaga independensi dan kemandirian media(Fundraising).

Pada hari ketiga yang merupakan hati terakhir, materi lokakarya membahas Rencana tindak lanjut (RTL) masing masing media desa. Media harus menyusun beberapa rencana tindak lanjut yang kongkrit yang bisa dilakukan oleh media sampai akhir Maret 2018(Exit program).

Banyak hal bermanfaat yang bisa kita petik dengan adanya lokakarya dan temu media desa tersebut antara lain bisa nenambah ilmu, wawasan dan pengalaman dalam bermedia, menemukan teman, sahabat dan keluarga baru, semakin tumbuhnya kekuatan untuk menjaga exsistensi media desa sebagai salah satu pilar dalam mewujudkan akuntabilitas sosial, kemandirian desa serta desa membangun.

Tinggalkan Balasan