GARIS-GARIS KERETAKAN DALAM PERKAWINAN

Hay sahabat blogger, Pada zaman sekarang ini perceraian bukanlah suatu hal asing bagi telinga kita,banya media cetak dan elektronik yang memuat berita kasus perceraian. Lihat saja di media elektronik seperti televisi, kasus perceraian para artis merupakan topik yang selalu di jadinan trending topik pemberitaan infotainment. Saking seringnya pemberitaan perceraian para artis itu membuat saya selalu berpikir mungkin kawin-cerai sudah menjadi lifestyle atau gaya hidup para artis, kita bisa melihat sedikit sekali artis yang bisa mempertahankan pernikahannya.

Terlepas dari perceraian para artis tersebut. Secara garis besar tingkat perceraian hampir diseluruh negara mengalami lonjakan kenaikan yang terus bertambah tiap tahunnya. Tidak jelas apa faktor penyebab pastinya, untuk itulah saya berusaha menulis artikel ini untuk mengulik apa saja sih yang menyebabkan maraknya perceraian akhiriakhir ini.

Semakin pesatnya kemajuan dan pekembangan jaman pastilah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali kehidupan berkeluarga. Dalam kehidupan keluarga terjadi perubahan besar dalam peran serta istri dalam perekonomian keluarga. Pada jaman dulu ketergantungan ekonomi istri pada suami mungkin bisa menjadi faktor penting tetap rekat dan bersatunya hubungan pernikahan bahkan saat tekanan-tekanan yang paling menyengsarakan sekalipun. Tapi di jaman sekarang ketergantungan ekonomi istri pada suami nampaknya mulai memudar dan berkurang, sehingga hal ini tidak bisa menjadi perekat kuat lagi untuk sebuah hubungan pernikahan.

Disaat kondisi sosial-ekonomi tidak lagi mampu menjadi perekat kuat dalam suatu pernikahan, maka kekuatan emosi(perasaan) lah faktor penting yang bisa diharapkan dalam menjaga keutuhan pernikahan.

Kekuatan emosi antara suami istri yang diharapkan mampu merekatkan hubungan dan keharmonisan pernikahanpun terkadang tidak mampu menjadi perekat kuat. Ini bisa terjadi karena adanya dua realitas emosi yang tidak terstala(selaras) antara emosi milik suami dan emosi milik si isteri.

Keretakan-keretakan dalam pernikahan mencerminkan adanya fakta dan tahapan-tahapan tentang adanya dua realitas emosi perasaan antara suami istri yang tidak terstala dengan baik.

Akar penyebab tak stalanya kedua emosi tersebut bisa kita lacak, bisa dirunut kebelakang, yaitu ke kehidupan mereka sewaktu anak-anak dan remaja. Dimana pada masa itu antara anak laki-laki dan perempuan memiliki dunia emosi yang terpisah hingga mereka dewasa. Dinding-dinding pemisah emosi keduanya semakin kuat manakala dalam pergaulan sehari-hari terdapat pola penanganan emosi yang berbeda diantara keduanya.

Dalam penanganan emosi, kebanyakan orang tua menanamkan emosi/ perasaan secara lebih detail dan mendalam pada anak perempuannya dibanding pada anak lelakinya. Anak perempuan cendrung ke arah perasaan dan anak laki-laki pada nalar dan logikanya.

Tak hayal pada masa pertumbuhannya, anak perempuan lebih cepat trampil berbahasa daripada anak laki-laki. Anak perempuan lebih pintar mengutarakan perasaan dan lebih pintar memilih tata bahasa daripada anak laki-laki. Anak laki-laki cenderung kurang peka akan keadaan emosi, baik emosi pribadi maupun orang lain.

Dalam pergaulannya perempuan mengutamakan kebersamaan dan kerukunan, sedang pada anak laki-laki cendrung bersifat persaingan dan konfrontasi. Laki-laki bangga karena kemandirian dan kemerdekaanya, sementara perempuan melihat dirinya sebagai bagian dari sebuah jaringan hubungan. Oleh karena itu, laki-laki akan merasa terancam bila ada apa-apa yang menantang kemandiriannya. Sementara perempuan lebih terancam oleh putusnya hubungan yang mereka jalin.

Perbedaan-perbedaan didikan emosi pada masa kanak-kanak menghasilkan ketrampilan yang berbeda,perempuan mahir membaca sial-sinyal verbal dan non verbal, mahir mengungkapkan dan mengkomunikasikan perasaannya serta lebih mudah berempati, sedang laki-laki lebih cakap dalam hal meredam emosi berkaitan dengan rasa rentan, salah, takut atau sakit.

Semua pengalamanya pada masa kanak-kanak dan remaja menjadikan wanita siap berperan sebagai manager emosi saat mereka masuk kejenjang pernikahan daripada laki-laki.

Unsur penting bagi wanita setelah menikah adalah adanya komunikasi yang bagus antara dia dan suaminya untuk membahas tuntas semua hal yang terkait hubungan mereka. Sedang para suami umumnya kurang memahami apa yang dikehendaki istrinya dari mereka. Lelaki biasanya cendrung lebih suka melakukannya daripada membicarakan atau membahasnya.

Sikap suami yang tidak suka melakukan konfrontasi emosi untuk membahas sesuatu sering kali membuatnya mengelak atau menghindar saat istri mulai mengajaknya berbicara serius tentang suatu hal yang merisaukan. Penolakan inilah yang biasanya membuat para istri lebih sering mengeluh daripada suami. Para istri cendrung menganggap suami lari dari permasalahan, padahal sejatinya tidak demikian.

TO BE CONTINUED DULU YAH, CAPEK NULIS N MIKIRNYA 😀

Tinggalkan Balasan