DILEMA PARADIGMA PENDIDIKAN KITA

Hay sahabat Blogger, kali ini saya ingin membahas sedikit tentang dunia pendidikan kita,tentunya ini hanya berdasarkan pendapat dan pemikiran saya saja, bukan berdasar pada sumber teks buku, semoga pikiran saya ini sejalan dengan pikiran teman-teman semua, khususnya para tenaga pendidik semua.

Ada paradigma yang salah, yang terus hidup dan berkembang dalam masyarakat tentang dunia pendidikan kita,yah walaupun memang benar sudah banyak sekali revisi dan inovasi dalam dunia pendidikan kita, standar dan sistem pendidikan sering kali diubah-ubah yang katanya demi menyesuaikan perkembangan jaman, tiap kali ganti birokrasi maka ganti pula kebijakan, yang mana menurut saya kurang etis sebenarnya. Bagaimana pendidikan kita bisa berkembang pesat kalau saja suatu sistem yang diterapkan baru saja jadi pijakan, baru saja diterapkan, baru saja di budayakan secara tiba-tiba di ganti dengan sistem dan standar baru cuma gara-gara pergantian birokrasi.

Seperti yang di kutip dari kemendikbud.go.id ternyata selama ini Indonesia telah berganti kurikulum sebanyak 11 kali, terhitung sejak Indonesia merdeka. Yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013, dan 2015. Suatu hal yang tak biasa bukan?.

Pergantian ini tak pelak hanya membuat dunia pendidikan kita dalam keadaan “ontran-ontran ” saja, dalam arti kurang adanya kedamaian di setiap sistemnya. Bagi para pendidik, saya rasa ini cukup menganggu,cukup memecah fokus utamanya sebagai pendidik. Alih-alih sistem yang dibuat dengan maksud dan tujuan yang baik malah berefek sebaliknya, membuat pusing para staff pengajar, melakukan ini itu demi melengkapi prasyarat sebuah sistem yang tiap saat berubah-ubah. Lalu kapan dunia pendidikan kita akan nyaman berpijak dalam suatu sistem kebijakan pendidikan yang berkelanjutan?, bukankah efek sebuah sistem bisa kita rasakan dalam jangka panjang? Gak instan begitu saja?.

Dalam mencapai tujuan pendidikan yang di harapkan saat ini, memang semua sistem telah memandang siswa tidak hanya sebagai objek pembelajaran tapi subjek pembelajaran. Siswa telah memiliki peran aktif yang luar biasa dalam pendidikan, keaktifan siswa menjadi kunci sukses pada pembelajaran masa kini.

Untuk mencapai sebuah kemajuan, semua sistem dan paradigma pendidikan telah di ubah kearah yang lebih baik. Tapi, ada satu hal yang belum berubah menurut saya dan itu masih melekat kuat dalam benak masyarakat kita, walaupun banyak yang menampik, tapi itu masih terlihat jelas.

Hakikat dan cara pandang masyarakat tentang cara menilai hasil pendidikan belum banyak berubah. Disukai atau tidak, dipercayai atau tidak, paradigma yang berkembang di masyarakat kita nilai adalah tolak ukur sebuah keberhasilan dalam pendidikan. Nilai secara disadari atau tidak seakan-akan menjadi akhir tujuan dari pendidikan.

Secara tidak sadar jika sesorang anak memperoleh Nilai yang bagus maka kita akan menganggap ia berhasil dalam pendidikan dan tujuan pendidikanpun telah berhasil. Ini berbanding terbalik dengan mereka-mereka yang memperoleh Nilai kurang baik. Kita akan memandang sebaliknya bukan? Itulah cara pandang yang kurang tepat menurut saya, Nilai bukanlah tolak ukur keberhasilan pendidikan yang di canangkan di negara kita bukan?

Inti tujuan dari pendidikan kita adalah kedewasaan, perubahan kearah kedewasaan bukanlah nilai, tapi yang tercermin di masyarakat Nilai adalah inti keberhasilan pendidikan.

Anak yang bernilai baik selalu di identikan cerdas dan digadang-gadang akan memiliki masa depan yang cerah, akan mudah memperoleh pekerjaan,kekayaan dan lainnya dimasa depan. Stereotip yang berkembang inilah yang akhirnya sedikit mengaburkan tujuan pendidikan. Pada akhirnya kita tidak bisa menyangkal bahwa Nilai akademik menjadi tolak ukur keberhasilan suatu pengajaran dan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan.

Padahal jika kita kaji, banyak aspek lain yang lebih penting dari nilai, yang lebih harus ditekankan dalam pendidikan. Moralitas, kepribadian, sikap dan prilaku adalah hal penting yang perlu ditekankan disini, karena tujuan pendidikan kita adalah mencetak generasi yang bermoral dan berkepribadian, berkarakter dan bukan mencetak generasi bernilai akademik baik saja.

Kita bisa melihat prilaku anak jaman sekarang, mereka terkesan kurang memiliki sopan santun dan unggah ungguh terhadap orang lain bahkan terhadap gurunya sendiripun terkesan menyepelekan, belum lagi kenakalan remaja yang terjadi di luar sana, suatu hal yang sangat miris dan ironis jika kita melihatnya. Semua itu merupakan cerminan kecil dari efek sistem pendidikan kita yang menitik beratkan pada nilai akademik saja.

Contoh kenakalan remaja di luar sekolah

Tidak bisa dipungkiri nilai akademik merupakan prasyarat utama yang diterapkan dalam dunia kita untuk segala sesuatunya, semua serba melihat nilai,melihat ijazah tak terkecuali mencari pekerjaan. Memang tidak salah dan sah sah aja menerapkan semua itu, tapi ya jangan dijadikan tolak ukur dan prasyarat utama, karena ada hal yang lebih penting dari itu yaitu potensi diri dan ketrampilan bersosialisasi.

Bagi saya, nilai akademik atau ijazah itu hanya sekedar Pemulus saja dalam mencari pekerjaan, karena dalam prakteknya banyak hal lain yang lebih penting dari itu, potensi diri dan ketrampilan bersosialisasi adalah hal yang lebih menunjang keberhasilan dalam bekerja dibanding nilai akademik.

Keberhasilan akademik(nilai) adalah keberhasilan yang dinilai dan diukur dari angka-angka saja. Keberhasilan angka-angka ini tidak bisa memberikan gambaran apapun tentang bagaimana mereka bereaksi terhadap probelamtika dan kesulitan-kesulitan hidup, keberhasilan akademik praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan- kesulitan dalam hidup dan pekerjaan.

Di negara kita banyak orang-orang pintar dan cerdas secara akademik yang menempati jabatan penting di pos pos pemerintahan, kecerdasan akademik, kecerdasan angka-angkalah yang menjadikan mereka seperti itu. Tak heran sampai detik ini hal itu masih jadi pedoman yang melekat di benak kita bahwa kecerdasan akademik berupa nilai adalah faktor penting kebehasilan masa depan. Tidak ada yang salah, memang kenyataanya budaya itulah yang hidup di masyrakat kita

Orang yang pandai secara akademik itu, yang menduduki pos pos penting dalam pemerintahan itu merupakan orang-orang yang terampil didunia pemikiran, orang-orang yang cerdas dalam teori dan pembuat aturan serta perundang-undangan, namun canggung didunia pribadi dan sosial.

Dalam dunia nyata, banyak contoh yang bisa menggambarkan hal itu, mereka ahli dan pintar dalam bidangnya, pintar membuat peraturan dan perundangan tapi ahli juga dalam hal melanggarnya. Belum lagi contoh lain, mereka yang kerap kali dijuluki pejabat, orang terhormat, cerdas tapi terlihat canggung dalam bermasyarakat, arogansi mereka terlihat jelas saat terlibat dalam permasalahan masyarakat, kerap kali mereka memperlihatkan kedudukan, pangkat dan jabatanya untuk membenarkan setiap tindak tanduknya. Sikap orang cerdas yang sebenarnya menunjukan ketidakcerdasanya, menelanjangi diri hanya untuk melindungi kesalahan dan egonya. Mereka tak lebih bak karikatur intelektual saja.

Pejabat-pejabat tersebut merupakan peninggalan dan hasil cetakan sistem pendidikan kita terdahulu yang lebih cenderung menitik beratkan keberhasilan akademik. Sampai sekarangpun tujuan pendidikan tersebutpun masih terus membayang secara tersirat di benak kita.

Semoga sistem pendidikan kita memiliki kurikulum yang selalu relevan nantinya, yang bisa menyesuaikan dengan kemajuan jaman, suatu sistem yang benar-benar bisa mengkoordinir semua aspek perkembangan siswa. Suatu sistem yang benar-benar mampu mengimplementasikan semua aspek secara nyata bukan hanya sekedar dalam teks saja.

Harapan saya, semoga kedepanya aspek moralitas,dan keagamaan lebih ditekankan dalam dunia pendidikan kita. Karena bagaimanapun aspek moralitas, keagamaan dan aspek lainnya lebih dibutuhkan untuk memperbaiki kehidupan bangsa bila dibanding aspek akademik.

Sebenarnya masih banyak unek-unek terkait hal ini yang ingin saya ceritakan, tapi kayaknya ini juga sudah terlalu panjang dan kurang berarti, mungkin celotehan saya ini juga sudah mendiami pikiran teman-teman sekalian sejak lama, tak terasa waktu juga beranjak siang, saya sendiri mulai merasa letih mengetik di depan hape, hehehe 😀

Apapun tulisan saya ini, pasti jauh dari harapan, ini hanya sekedar wacana saya,pro kontra pasti udah biasa, jika ada yang membaca tulisan saya dan kurang berkenan di hati anda silahkan kritisi, mari kita berdiskusi dan tukar pendapat melalui artikel ini

Sekali lagi terimakasih agan-agan sudah sempat mampir ataupun mebaca tulisan ini. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan